Selasa, 04 Januari 2011

Halloween Day...

HALLOWEEN

Halloween (or Hallowe'en) is an annual holiday observed on October 31, which commonly includes activities such as trick-or-treating, attending costume parties, carving jack-o'-lanterns, bonfires, apple bobbing, visiting haunted attractions, playing pranks, telling scary stories, and watching horror films.
 
Histori
Historian Nicholas Rogers, exploring the origins of Halloween, notes that while "some folklorists have detected its origins in the Roman feast of Pomona, the goddess of fruits and seeds, or in the festival of the dead called Parentalia, it is more typically linked to the Celtic festival of Samhain, whose original spelling was Samuin (pronounced sow-an or sow-in)".The name is derived from Old Irish and means roughly "summer's end".

Snap-Apple Night (1832) by Daniel Maclise.
Depicts apple bobbing and divination games at a Halloween party in Blarney, Ireland.
 
The name 'Halloween' and many of its present-day traditions derive from the Old English era


Symbols

Jack-o'-lanterns in Kobe, Japan
 
Development of artifacts and symbols associated with Halloween formed over time. For instance, the carving of jack-o'-lanterns springs from the souling custom of carving turnips into lanterns as a way of remembering the souls held in purgatory.The carving of pumpkins is associated with Halloween in North America where pumpkins are both readily available and much larger – making them easier to carve than turnips. The American tradition of carving pumpkins preceded the Great Famine period of Irish immigration and was originally associated with harvest time in general, not becoming specifically associated with Halloween until the mid-to-late 19th century.
The imagery of Halloween is derived from many sources, including national customs, works of Gothic and horror literature (such as the novels Frankenstein and Dracula), and classic horror films (such as Frankenstein and The Mummy). Among the earliest works on the subject of Halloween is from Scottish poet John Mayne in 1780, who made note of pranks at Halloween; "What fearfu' pranks ensue!", as well as the supernatural associated with the night, "Bogies"Robert Burns' (ghosts), influencing Halloween 1785. Elements of the autumn season, such as pumpkins, corn husks, and scarecrows, are also prevalent. Homes are often decorated with these types of symbols around Halloween.
Halloween imagery includes themes of death, evil, the occult, or mythical monsters. Black and orange are the traditional Halloween colors.

Costumes

People dressing in Halloween Costumes in Dublin.
 
Halloween costumes are traditionally modeled after supernatural figures such as monsters, ghosts, skeletons, witches, and devils. Over time, the costume selection extended to include popular characters from fiction, celebrities, and generic archetypes such as ninjas and princesses.
Dressing up in costumes and going "guising" was prevalent in Scotland and Ireland at Halloween by the 19th century. Costuming became popular for Halloween parties in the US in the early 20th century, as often for adults as for children. The first mass-produced Halloween costumes appeared in stores in the 1930s when trick-or-treating was becoming popular in the United States.
Halloween costume parties generally fall on, or around, 31 October, often falling on the Friday or Saturday prior to Halloween.


"TRICK OR TREAT...!!!"

Jumat, 26 November 2010

PROSES MASUKNYA HINDU-BUDHA DI INDONESIA


Proses Masuk dan Berkembangnya Pengaruh Hindu-Buddha di Indonesia
Pada permulaan tarikh masehi, di Benua Asia terdapat dua negeri besar yang tingkat peradabannya dianggap sudah tinggi, yaitu India dan Cina. Kedua negeri ini menjalin hubungan ekonomi dan perdagangan yang baik. Arus lalu lintas perdagangan dan pelayaran berlangsung melalui jalan darat dan laut. Salah satu jalur lalu lintas laut yang dilewati India-Cina adalah Selat Malaka. Indonesia yang terletak di jalur posisi silang dua benua dan dua samudera, serta berada di dekat Selat Malaka memiliki keuntungan, yaitu:
1.   Sering dikunjungi bangsa-bangsa asing, seperti India, Cina, Arab, dan Persia,
2.  Kesempatan melakukan hubungan perdagangan internasional terbuka lebar,
3.   Pergaulan dengan bangsa-bangsa lain semakin luas, dan
4.  Pengaruh asing masuk ke Indonesia, seperti Hindu-Budha.
Keterlibatan bangsa Indonesia dalam kegiatan perdagangan dan pelayaran internasional menyebabkan timbulnya percampuran budaya. India merupakan negara pertama yang memberikan pengaruh kepada Indonesia, yaitu dalam bentuk budaya Hindu. Ada beberapa hipotesis yang dikemukakan para ahli tentang proses masuknya budaya Hindu-Buddha ke Indonesia.

1. Hipotesis Brahmana
Hipotesis ini mengungkapkan bahwa kaum brahmana amat berperan dalam upaya penyebaran budaya Hindu di Indonesia. Para brahmana mendapat undangan dari penguasa Indonesia untuk menobatkan raja dan memimpin upacara-upacara keagamaan. Pendukung hipotesis ini adalah Van Leur.

2. Hipotesis Ksatria
Pada hipotesis ksatria, peranan penyebaran agama dan budaya Hindu dilakukan oleh kaum ksatria. Menurut hipotesis ini, di masa lampau di India sering terjadi peperangan antargolongan di dalam masyarakat. Para prajurit yang kalah atau jenuh menghadapi perang, lantas meninggalkan India. Rupanya, diantara mereka ada pula yang sampai ke wilayah Indonesia. Mereka inilah yang kemudian berusaha mendirikan koloni-koloni baru sebagai tempat tinggalnya. Di tempat itu pula terjadi proses penyebaran agama dan budaya Hindu. F.D.K. Bosch adalah salah seorang pendukung hipotesis ksatria.

3. Hipotesis Waisya
Menurut para pendukung hipotesis waisya, kaum waisya yang berasal dari kelompok pedagang telah berperan dalam menyebarkan budaya Hindu ke Nusantara. Para pedagang banyak berhubungan dengan para penguasa beserta rakyatnya. Jalinan hubungan itu telah membuka peluang bagi terjadinya proses penyebaran budaya Hindu. N.J. Krom adalah salah satu pendukung dari hipotesis waisya.

4. Hipotesis Sudra
Von van Faber mengungkapkan bahwa peperangan yang tejadi di India telah menyebabkan golongan sudra menjadi orang buangan. Mereka kemudian meninggalkan India dengan mengikuti kaum waisya. Dengan jumlah yang besar, diduga golongan sudralah yang memberi andil dalam penyebaran budaya Hindu ke Nusantara.

Selain pendapat di atas, para ahli menduga banyak pemuda di wilayah Indonesia yang belajar agama Hindu dan Buddha ke India. Di perantauan mereka mendirikan organisasi yang disebut Sanggha. Setelah memperoleh ilmu yang banyak, mereka kembali untuk menyebarkannya. Pendapat semacam ini disebut Teori Arus Balik.
Pada umumnya para ahli cenderung kepada pendapat yang menyatakan bahwa masuknya budaya Hindu ke Indonesia itu dibawa dan disebarluaskan oleh orang-orang Indonesia sendiri. Bukti tertua pengaruh budaya India di Indonesia adalah penemuan arca perunggu Buddha di daerah Sempaga (Sulawesi Selatan). Dilihat dari bentuknya, arca ini mempunyai langgam yang sama dengan arca yang dibuat di Amarawati (India). Para ahli memperkirakan, arca Buddha tersebut merupakan barang dagangan atau barang persembahan untuk bangunan suci agama Buddha. Selain itu, banyak pula ditemukan prasasti tertua dalam bahasa Sanskerta dan Malayu kuno. Berita yang disampaikan prasasti-prasasti itu memberi petunjuk bahwa budaya Hindu menyebar di Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7 Masehi.
Masuknya pengaruh unsur kebudayaan Hindu-Buddha dari India telah mengubah dan menambah khasanah budaya Indonesia dalam beberapa aspek kehidupan.

1. Agama
Ketika memasuki zaman sejarah, masyarakat di Indonesia telah menganut kepercayaan animisme dan dinamisme. Masyarakat mulai menerima sistem kepercayaan baru, yaitu agama Hindu-Buddha sejak berinteraksi dengan orang-orang India. Budaya baru tersebut membawa perubahan pada kehidupan keagamaan, misalnya dalam hal tata krama, upacara-upacara pemujaan, dan bentuk tempat peribadatan.

2. Pemerintahan
Sistem pemerintahan kerajaan dikenalkan oleh orang-orang India. Dalam sistem ini kelompok-kelompok kecil masyarakat bersatu dengan kepemilikan wilayah yang luas. Kepala suku yang terbaik dan terkuat berhak atas tampuk kekuasaan kerajaan. Oleh karena itu, lahir kerajaan-kerajaan, seperti Kutai, Tarumanegara, dan Sriwijaya.

3. Arsitektur
Salah satu tradisi megalitikum adalah bangunan punden berundak-undak. Tradisi tersebut berpadu dengan budaya India yang mengilhami pembuatan bangunan candi. Jika kita memperhatikan Candi Borobudur, akan terlihat bahwa bangunannya berbentuk limas yang berundak-undak. Hal ini menjadi bukti adanya paduan budaya India-Indonesia.

4. Bahasa
Kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia meninggalkan beberapa prasasti yang sebagian besar berhuruf Pallawa dan berbahasa Sanskerta. Dalam perkembangan selanjutnya bahkan hingga saat ini, bahasa Indonesia memperkaya diri dengan bahasa Sanskerta itu. Kalimat atau kata-kata bahasa Indonesia yang merupakan hasil serapan dari bahasa Sanskerta, yaitu Pancasila, Dasa Dharma, Kartika Eka Paksi, Parasamya Purnakarya Nugraha, dan sebagainya.

5. Sastra
Berkembangnya pengaruh India di Indonesia membawa kemajuan besar dalam bidang sastra. Karya sastra terkenal yang mereka bawa adalah kitab Ramayana dan Mahabharata. Adanya kitab-kitab itu memacu para pujangga Indonesia untuk menghasilkan karya sendiri. Karya-karya sastra yang muncul di Indonesia adalah:
1.   Arjunawiwaha, karya Mpu Kanwa,
2.  Sutasoma, karya Mpu Tantular, dan
3.   Negarakertagama, karya Mpu Prapanca.

Agama Hindu
Agama Hindu berkembang di India pada ± tahun 1500 SM. Sumber ajaran Hindu terdapat dalam kitab sucinya yaitu Weda. Kitab Weda terdiri atas 4 Samhita atau “himpunan” yaitu:
1.   Reg Weda, berisi syair puji-pujian kepada para dewa.
2.  Sama Weda, berisi nyanyian-nyanyian suci.
3.   Yajur Weda, berisi mantera-mantera untuk upacara keselamatan.
4.  Atharwa Weda, berisi doa-doa untuk penyembuhan penyakit.
Di samping kitab Weda, umat Hindu juga memiliki kitab suci lainnya yaitu:
1.   Kitab Brahmana, berisi ajaran tentang hal-hal sesaji.
2.  Kitab Upanishad, berisi ajaran ketuhanan dan makna hidup.
Agama Hindu menganut polytheisme (menyembah banyak dewa), diantaranya Trimurti atau “Kesatuan Tiga Dewa Tertinggi” yaitu:
1.   Dewa Brahmana, sebagai dewa pencipta.
2.  Dewa Wisnu, sebagai dewa pemelihara dan pelindung.
3.   Dewa Siwa, sebagai dewa perusak.
Selain Dewa Trimurti, ada pula dewa yang banyak dipuja yaitu Dewa Indra pembawa hujan yang sangat penting untuk pertanian, serta Dewa Agni (api) yang berguna untuk memasak dan upacara-upacara keagamaan. Menurut agama Hindu masyarakat dibedakan menjadi 4 tingkatan atau kasta yang disebut Caturwarna yaitu:
1.   Kasta Brahmana, terdiri dari para pendeta.
2.  Kasta Ksatria, terdiri dari raja, keluarga raja, dan bangsawan.
3.   Kasta Waisya, terdiri dari para pedagang, dan buruh menengah.
4.  Kasta Sudra, terdiri dari para petani, buruh kecil, dan budak.
Selain 4 kasta tersebut terdapat pula golongan pharia atau candala, yaitu orang di luar kasta yang telah melanggar aturan-aturan kasta.
Orang-orang Hindu memilih tempat yang dianggap suci misalnya, Benares sebagai tempat bersemayamnya Dewa Siwa serta Sungai Gangga yang airnya dapat mensucikan dosa umat Hindu, sehingga bisa mencapai puncak nirwana.


Agama Buddha

Agama Buddha diajarkan oleh Sidharta Gautama di India pada tahun ± 531 SM. Ayahnya seorang raja bernama Sudhodana dan ibunya Dewi Maya. Buddha artinya orang yang telah sadar dan ingin melepaskan diri dari samsara.
Kitab suci agama Buddha yaitu Tripittaka artinya “Tiga Keranjang” yang ditulis dengan bahasa Poli. Adapun yang dimaksud dengan Tiga Keranjang adalah:
1.   Winayapittaka : Berisi peraturan-peraturan dan hukum yang harus dijalankan oleh umat Buddha.
2.  Sutrantapittaka : Berisi wejangan-wejangan atau ajaran dari sang Buddha.
3.   Abhidarmapittaka : Berisi penjelasan tentang soal-soal keagamaan.
Pemeluk Buddha wajib melaksanakan Tri Dharma atau “Tiga Kebaktian” yaitu:
1.   Buddha yaitu berbakti kepada Buddha.
2.  Dharma yaitu berbakti kepada ajaran-ajaran Buddha.
3.   Sangga yaitu berbakti kepada pemeluk-pemeluk Buddha.
Disamping itu agar orang dapat mencapai nirwana harus mengikuti 8 (delapan) jalan kebenaran atau Astavidha yaitu:
1.   Pandangan yang benar.
2.  Niat yang benar.
3.   Perkataan yang benar.
4.  Perbuatan yang benar.
5.  Penghidupan yang benar.
6.   Usaha yang benar.
7.  Perhatian yang benar.
8.  Bersemedi yang benar.
Karena munculnya berbagai penafsiran dari ajaran Buddha, akhirnya menumbuhkan dua aliran dalam agama Buddha yaitu:
1.   Buddha Hinayana, yaitu setiap orang dapat mencapai nirwana atas usahanya sendiri.
2.  Buddha Mahayana, yaitu orang dapat mencapai nirwana dengan usaha bersama dan saling membantu.
Pemeluk Buddha juga memiliki tempat-tempat yang dianggap suci dan keramat yaitu:
1.   Kapilawastu, yaitu tempat lahirnya Sang Buddha.
2.  Bodh Gaya, yaitu tempat Sang Buddha bersemedi dan memperoleh Bodhi.
3.   Sarnath/ Benares, yaitu tempat Sang Buddha mengajarkan ajarannya pertama kali.
Kusinagara, yaitu tempat wafatnya Sang Buddha

Selasa, 02 November 2010

5 besar Rangking Aksel :
1a. Nadya Marshalita
  b. Shabrina PNA
2. Spirlee A S
3. Anissa Dian Pratiwi
4. Genoveva Alicia 
5. Ghea Rizki A P